CEO Kalah Judi Triliunan Rupiah, Vendor Ponsel China Terancam Bangkrut

jjjjjjpg

Vendor ponsel asal China, Gionee, terancam bangkrut. Hal ini terjadi lantaran perusahaan terlilit utang dalam jumlah yang besar, ditambah sang CEO Liu Lirong kalah dalam berjudi dengan menggunakan uang yang disinyalir milik perusahaan.

Berdasarkan laporan, Gionee memiliki total utang dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah. Utang tersebut mencakup tunggakan pembayaran mulai dari institusi finansial, pemasok komponen pembuat ponsel (supplier), hingga agensi iklan.

Baca Juga : Smartfren Tertarik Ambil Blok Eks Jasnita di Frekuensi 2.300 MHz

Jumlah tunggakan ini kian membengkak setelah Lirong dikabarkan kehilangan duit senilai 10 miliar yuan atau lebih dari Rp 20 triliun di meja judi. Namun, belakangan Lirong membantah telah kehilangan uang dalam jumlah tersebut dan mengatakan "hanya" sekitar 1 miliar yuan (Rp 2 triliun) yang ludes karena berjudi.

Lirong pun mengelak ketika dituding menyalahgunakan dana perusahaan untuk perjudian. Dalihnya, ia mengatakan sekadar "meminjam" sebagian kecil dana yang ada di perusahaan. Meski begitu, sang CEO mengaku memang keranjingan berjudi.

Sekitar 20 suplaier yang menahan pasokan komponen mereka dilaporkan mengajukan permohonan restrukturisasi dan kebangkrutan atas Gionee ke pengadilan di wilayah Shenzhen pada November lalu.

Permohonan itu diajukan lantaran Gionee gagal membayar biaya produksi kepada para pemasok tersebut selama beberapa bulan, seperti dirangkum KompasTekno dari South China Morning Post, Senin (3/12/2018).

Total utang Gionee dilaporkan mencapai 17 miliar yuan (Rp 35 triliun). Sebanyak 10 miliar yuan (Rp 20 triliun) merupakan tunggakan ke bank, 5 miliar yuan (Rp 10 triliun) ke pemasok, dan 2 miliar yuan (Rp 4 triliun) ke agensi iklan.

Di pasaran smartphone China, Gionee menduduki urutan keenam setelah Apple. Posisinya belakangan terdesak oleh para pemain besar Negeri Tirai Bambu, seperti Huawei, Oppo, Vivo, dan Xiaomi.

Meski demikian, Gionee masih bisa melakukan ekspansi ke beberapa wilayah pasar di luar China, seperti India dan Indonesia pada akhir 2017 lalu.