Cerita Ilmuwan Indonesia Ikut Merancang Robot Gundam Raksasa

Salah satu ilmuwan Indonesia ikut terlibat dalam pembuatan robot Gundamraksasa di Jepang. Dia adalah Pitoyo Hartono, profesor bidang jaringan saraf buatan di Department of Mechanics and Information, Chukyo University, Jepang.

799168_720jpg

Pitoyo bercerita, technical leader dari proyek ini, Shuji Hashimoto--profesor fisika teknik di Waseda Univesity--merupakan mentornya. Konsentrasi penelitian Hashimoto adalah human information processing.

"Riset di lab beliau terdiri dari 4 grup, yakni robotik, image processing, sound and musical processing, dan neural network and artificial intelligence," ujar Pitoyo kepada Tempo melalui pesan singkat, Jumat, 23 November 2018. "Dialah yang mengajak saya untuk ikut dalam proyek ini."

Baca Juga : 5 Hal Kenapa Harus Bijak Men"Share" Pesan WhatsApss Politik dan SARA

Shuji Hashimoto merupakan pimpinan Gundam Global Challenge, yang menginisiasi untuk membuat Robot Gundam berukuran 18 meter dan bisa bergerak. Selain Hashimoto sebagai pimpinan dan Pitoyo Hartono, ada anime director Yoshiyuki Tomino, produser film Katsuyuki Motohiro dan Creative Technical Director Seiichi Saito.

aajpg

Pembuatan Gundam berawal dari Gundam Global Challenge, sebuah pencarian bakat di seluruh dunia, untuk merancang robot Gundam skala penuh setinggi 18 meter dan memungkinkannya untuk bergerak. Ada banyak ilmu, teknik, dan unsur seni di dalam proyek ini.

"Saya salah satu murid pertama beliau. Saya mulai belajar di lab beliau sejak semester akhir S1 sampai menyelesaikan S3," tambah Pitoyo. "Setelah itu saya menjadi research associate di lab beliau selama sekitar 4 tahun, sebelum saya memulai lab saya sendiri di universitas lain."

Pitoyo sebenarnya fokus pada bidang neural network, minat terbesarnya adalah mengungkap bagaimana kecerdasan bisa muncul pada manusia dan alam. Untuk itu, Pitoyo berpendapat bahwa, untuk memunculkan "kecerdasan" perlu ada media fisik (misalnya badan) untuk berinteraksi secara fisik dengan lingkungan sekitar.

Karena itu, kata dia, memerlukan robot dalam penelitian. Dia tidak pernah membuat humanoid dan tidak pernah membuat robot yang tidak lebih dari 50 centimeter. "Saya tidak tahu pertimbangan Prof. Hashimoto mengajak saya, yang sebenarnya bukan ahli mekanika," ujar Pitoyo.

Menurut dia, Hashimoto punya banyak murid lain yang sangat ahli dalam bidang robotika. "Saya hanya bisa menebak, bahwa beliau ingin ada persepsi yang lebih luas dalam mengartikan robot, dan memberi filosofi yang lebih luas untuk tantangan ini," kata Pitoyo.



eeejpg

Pitoyo menyelesaikan S1 pada 1993, S2 pada 1995 di Waseda University. Setelah itu dia bekerja di industri sampai 1998 sebelum kembali ke lab Hashimoto untuk mengambil S3 dari 1998 hingga 2002. Dan Pitoyo mulai terlibat dalam Gundam Global Challenge sekitar akhir 2014.

Pitoyo menceritakan bahwa dirinya diajak oleh Hashimoto hanya melalui telepon sambil tertawa-tertawa. "Tolong bantu saya, kita akan melakukan sesuatu yang 'baka-bakashi', artinya kira-kira absurd, yang akan jadi cemohan dari orang lain," tambah Pitoyo mengikuti nada Hashimoto. Dan Pitoyo mengiyakan ajakan Hashimoto sambil ketawa ketawa juga. "Hai, Sensei," lanjutnya dengan bahasa Jepang.

Menurut pria asal Surabaya itu, Hashimoto merupakan wakil rektor di Waseda University pada saat dia kuliah, salah satu universitas tertua di Jepang. Namun, kata Pitoyo, Hashimoto dengan senang hati keluar dari comfort zone-nya. "Tidak khawatir dicemoohkan oleh orang lain karena ingin merealisasikan robot dari anime," kata dia.


eerrjpg