Tombol Like Bukan Lagi Sekadar "Suka"

qqqjpg
Linimasa Facebook akan selalu penuh berisi posting teman-teman. Mulai dari selfie, wefie saat piknik, petuah, sampai berita politik ada di linimasa. Baik postingan prbadi dan teman, selalu ada saja yang memberi tanda like. Sebuah ikon jempol biru yang begitu mudah kita berikan.

Namun tahukah Anda makna tombol like di Facebook kini bukan sekadar "suka". Tombol like sudah menjelma menjadi beberapa makna, yaitu:

Pertama, tombol like diciptakan Leah Pearlman sebagai pengganti komentar. Sebagai seorang komikus dan mantan desainer di Facebook, Leah melihat masalah saat seseorang berkomentar Congratulations di posting temannya. Selain terlalu banyak, lama dibalas satu-satu, juga tak enak dipandang.

Maka ia pun mengusulkan membuat tombol like. Dan sejak di-approve Mark Zuckerberg, di tahun 2006 tombol menjadi populer. Pengguna FB pun mulai menggunakan like dengan gempita.

Kedua, tombol like menjadi pertanda interaksi pengguna di Facebook. Memberi dan mendapatkan like atas postingan apapun kini menjadi muscle memory. Apapun postingan teman kita di Facebook akan langsung di-like. Kadang tanpa perlu membaca tautan link atau caption foto di postingan.

Baca Juga : Cerita Ilmuwan Indonesia Ikut Merancang Robot Gundam Raksasa

Ketiga, tombol like adalah bentuk apresiasi. Kitapun kadang menunggu posting rekan yang kadang begitu, kreatif, inspratif dan aktual. Like menjadi menjadi representasi apresiasi kita atas posting rekan tadi. Kadang kita pun mengisi kolom komentar sebagai bentuk apresiasi tertulis.

Keempat, tombol like sebagai bentuk basa-basi. Seperti mahfumnya budaya Timur, like kadang menjadi basa-basi. Namun basa-basi inilah yang menjalin interaksi dunia maya dan dunia nyata tetap terjadi.

Kelima, tombol like sebagai komoditas ekonomis. Like sempat menjadi variabel pemenangan suatu lomba. Dimana posting dengan like terbanyak biasanya menang. Setelah banyak tahu kalau banyak yang membeli like demi juara. Kini lomba seperti ini jarang ditemui.


aeeejpg
Keenam, tombol like sebagai ilusi dukungan politis. Mirip dengan like sebagai komoditas. Like disini lebih condong kepada kepentingan politis. Semakin banyak akun me-like maka tercipta ilusi sebuah posting itu benar. Walau mungkin like tadi dimulai dengan ribuan akun bot atau bodong.
Tak jarang pula, ratusan komentar atau ribuan share menghiasi postingan seperti ini. Jika tanpa dukungan sumber daya manusia dan materil, tentu kurang mungkin posting ini muncul teratas di linimasa.

Ketujuh, tombol like sebagai distorsi fokus sebuah aktifitas. Fokus kita kadang sibuk melihat notifikasi like, daripada mengerjakan aktifitas. Bisa jadi 30 menit dihabiskan menunggu like untuk foto makanan yang kita unggah. Sedang makanan saat dimakan sudah mulai dingin dan tidak enak.

Kedelapan, tombol like sebagai bentuk adiksi. Kita begitu gelisah dan cemas jikalau foto/posting kita tidak ada yang me-like. Padahal baru 10 menit kita posting, tapi sudah 10 kali kita bolak-balik membuka Facebook. Selain hati tak jenak, prasangka buruk kita tak disukai teman pun kadang muncul.

Kesembilan, tombol like sebagai penjara filter bubble kita. Algoritma sosmed seperti Facebook akan terus menghitung dan memunculkan posting rekan yang sering kita beri like. Postingan teman yang berbeda ideologi, preferensi politik, bahkan agama kadang tidak muncul.

Semua karena algoritma hanya ingin adanya interaksi users. Dengan interaksi atau engagement ini, iklan bisa dimunculkan, dilihat, atau diklik. Dan bukankah dengan cara ini Facebook mendapat income.

Tombol like secara dekonstruktif bukan lagi simbol mewakili rasa ketertarikan. Di dunia sosmed, baik itu like, heart, atau retweet menjelma menjadi beragam makna. Tinggal bagaimana users yang secara baik memahami kelindan makna ini.

Karena kadang, dalam posting dengan ribuan like tersurat makna ekonomis, politis, dan algoritmatik. Pun dalam posting teman yang minim like bisa saja tersirat apresiasi tulus dan interaksi bersahabat.